Jumat, 14 September 2012

CERPEN, PERTEMUAN PERTAMA


PERTEMUAN PERTAMA

Apakah itu Dia ? Tubuhnya dibalut kemeja biru murahan dipadu jeans hitam. Norak!! Tingginya berkisar 170 cm denfan badan kurang berisi, menyender pada salah satu sisi gedung di pelataran Pasar Baru Mamuju (PBM).
Jarak 15m, membuat aku leluasa menilik raut mukanya. Wajahnya bulat, hidungnya tidak terlalu mancung. Ditambah dengan rambut yang acak-acakan serta kulit yang putih tidak mampu mengkatrol penampilannya. Ah… Farel, ternya kamu biasa-biasa saja! Jauh dari cowak idola.
Kutinggalkan dia dengan segera, tenpa sedikitpun rasa bersalah. Terik matagari seaakan-akan menyengat. Akhir-akhir ini mamuju memang sangat panas sekali. Ku percepat langkah kakiku menuju tempat parker. Ku pacu “spin”ku. Jarum pada speedometer menunjuk angka 90. Bukan tanpa alasal kalau gas sepeda motorku kutambah. Aku takut Farel memergokiku. T-shirt biru dan jins hitam melekat di tubuhku, cukup umtuk membuat Farel mengenaliku.
Kusimpan motorku dihalaman depan. Ku jejaki kerikil di halaman rumahku. Ku terobos pintu rumah, tak ada siapa-siapa di rumah. Sepi. Mama dan Papa masih dikantor. Hanya Bi Ati yang menyambut kedatanganku.
“Neng kok cemberut, ada apa?” Tanya Bi Ati.
“Alaaah…, jangan urusin muka orang lain. Lagian bukan urusan Bibi jugakan?” sergaku kesal.
Kulirik Bi Ati yang tunduk, kedua tangannya di satukan disimpan di atas dadanya. Kenapa mesti aku tumpahkan kekesalanku ini pada orang sebaik Bi Ati. Aku tiba-tiba menyesal.
Kutuang sirup dan air es kedalam gelas. Kuaduk. Kuminum hanya dengan satu kali teguk. Rasa segar menjalari kerongkongan. Kulirik jam besar di ruang makan, pukul dua. Barang kali satu dua jam dapat menghilangkan kekesalanku dengan sejenak beristirahat.
Belum Aku melayang-layang ke alam mimpi, pintu kamarju ada yang mengetuk.
“Neng, ada temannya,” Suara Bi Ati hati-hati.
“Siapa Bi?” Tanyaku sedikit berteriak.
“Tidak tahu Neng,” jawab Bi Ati.
Siapa yang datang siang-siang kayak gini ? Ganggu orang tidur aja! Meski begitu, segera Kurapikan penampilanku. Kusisir rambutku, kurapiakan T-shirt biruku.
Kulihat seorang pemuda duduk tertunduk. Wajahnya ditekuk dalam-dalam di ruang tamu. Kemeja biru dan jeans hitam yang dikenakannya mengingatkanku dengan pemuda yang membuatku terpongoh-pongoh meninggalkan PBM. Farelkah ia? Kalau ya, nekat betul Dia.
Langkahku sempat berhenti. Bimbang. Kutemui atau tidak? Kalau kutemui, pasti akan menambah rasa kecewa dan kesal yang telah menumpuk dalam hati. Kalau tidak kasihan Dia datang jauh-jauh dari Polewali hanya untuk menemuiku. Lagian, mana tanggung jawabku dengan janji yang telah diikrarkan.
Akhirnya kumantapkan langkahku. Aku harus segera mengenalkan diri, akulah sahabat facebook yang ia cari.
“ Hai…!!! ” sapaku serama mungkin walau agak dipaksakan. Sapaanku mengagetkan Farel yang lagi asyik ngelamun.
“ eyi ya? “ balasnya yakin banget.
“ kamu pasti Farel “, ujarku yang tak kalah optimisnya, sambil kutebarkan senyum ala kadarnya. Kami bersalaman. Dalam hati aku berjanji ini pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir. Dandanan Farel yang kampungan, tongkrongannya yang gak level menjadi satu-satunya alasan agar aku tidak mengenal dirinya lagi. Tangan Farel begitu dingin seperti tidak dialiri darah. Dia  pasti grogi atau minder, setelah tahu kalau sahabat facebooknya mirip cover girl.
Memang wajahku lumayan. Semua orang mengaku itu. Bahkan di SMA-ku, aku termasuk gadis top. Banyak cowok yang antree mengatakan cintanya. Tapi aku tidak peduli, aku simpan cintaku untuk Farel, sahabat facebook-ku. Aku berjanji bahwa nyanyian cintaku hanya untuk didengarkan Farel. Memang aneh, belum tahu sosok asli Farel, begitu berani aku menegaskan bahwa Farel sebagai cowokku. Padahal Farel tidak pernah mengusik cinta didinding atau distatusnya. Nadanya jauh dari romantic. Hanya penawaran persahabatan. Aku saja yang kelewat berharap.
Ketertarikanku terhadap Farel kusimpan sendiri, tak pernah kuceritakan kepada siapapun. Tidak pada Wati sahabatku. Tidak juga pada penghuni rumah. Dari status-statusnya, aku berani taruhan, Farel orangnya supel, kece, wawasannya luas sehingga layak jadi cowokku.
Farel kubayangkan bertubuh atletis dan cukup menyenangkan. Dengan mimpi dan angan yang kurangkai sendiri Farel memenuhi criteria cowokku.
Tapi, ternyata mimpi dan anganku porak-poranda tatkalah sosok Farel menjelma. Sekarang di hadapan mataku hadir sosok tubuh yang jauh dari gambaranku selama ini. Farel lebih sederhana dibandingkan dengan Agus, Arfan, Ilham, Satria, ataupun Acong yang sudah terang-terangan menaksirku. Farel tak lebih dan tak kurang dari Rahmat, teman sekelasku yang dijuluki pemuda gunung oleh teman-temanku, termaksud Aku. Wajahnya begitu deso dan lugu.
“Eyi…??? Sapaan Farel menyadarkanku dari lamunan. Kupandangi Farel dengan tatapan yang tidak ramah. Biar Dia tahu aku kurang begitu suka dengan kehadirannya di rumahku, terlebih jika Dia mengangap aku sebagai sahabatnya. Pancaran dinar mata Farel yang tajam, sejenak memunculkan keterkejutanku. Tatapannya seakan menembus ulu hati. Menghukam jiwa. Huh….!!! Beraninya Dia menatapku sedemikian rupa. Kutatap Dia, tapi… ah sepasang mata itu. Farel aku jadi takut dengan sorot matamu.
“Eyi, Aku tahu, kamu pasti kecewa dengan pertemuan ini. Selama ini kamu pasti membayangkan Aku cowok bertubuh atletism, kaya, yang pantas jadi cowokmu. Tapi bayanganmu meleset, Aku tak lebih dari cowok kampung, anak gunung.” Ujar Farel. Loh dari mana Dia taju isi kepalaku???
“Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Aku bias meneropong jiwamu. Kamu gelisa dan kecewa melihat keaadaanku, yang t rnyata jauh dari pikiranmu.” Farel berujar dengan dingin dan suara itu berasal dari jauh. Seperti suara yang berasal dari negeri antah berantah. Padahal Farel tepat di hadapanku. Dan lebih mengherankan, Farel begitu pandai membaca benakku. Belum sempat Aku bicara, Farel sudah mulai mengutarakan unek-uneknya.
“Eyi, Aku datang dari jauh, hanya untuk memenuhi janjiku. Tulisan pesan terakhirmu meminta kita bertemu langsung, dan Aku menyanggupinya. Seperti yang Kau tulis, hari ini jam satu siang di PBM, tepatnya di depan deretan toko, kita harus bertemu. Mulanya Aku ragu, akankah kedatanganku Kau sambut hangat, seperti halny pesan dindingku yang selalu Kau sayangi.” Suara Farel mendingin dan sayup-sayup, tapi tak ayal menembak jantungku.
Mulutku terkunci. Kembali keheranan menyapaku, dari mana Dia tahu kalau pesan dindingnya selalu Aku banggakan.
“kepenasaranku yang sebesar gunung untuk segera bertemu, dan atas kesepakatan yang telah Aku buat, aku korbankan jam sekolahku. Hari ini Aku bolos. Dengan bis tadi pagi, kutinggalkan Polewali. Kutinggaklan teman- temanku. Kutinggaklan keluargaku. Aku datang ke Mamuju memenuhi janjiku. Tepat jam setengah satu, Aku berdiri di tempat yang telah Kau isyaratkan. Aku tahu jam setengah satu siang tadi adalah waktu yang telah kita sepakati. Sengaka senelum waktumya Aku menunggumu, karena Aku takut Kau telah menungguku. Aku takut telat. Akub takut mengecewakan sahabatku.” Ujarnya.
“Pukul satu mewat seperempat, Kamu datang. Baju kita sama, biru hitam. Itu aturan yang Kau tawarkan agar kita saling mudah untuk saling mengenali. Aku gemnira sekali dengan kehadiranmu. Tapi, Aku sedih. Ketika kita bertatapan, Kau mulai menyimak seluruh tubuhku, dari ubun-ubunku hingga keujung kakiku. Setelah tidak ada yang menarik dari penampilanku menurut ukuran Kamu, cepat sekali kamu menghilang meninggalkanku, dan pergi meninggalkanku dengan seribu langkah.” Lanjutmya.
Bibirnya yang gemetar, matnya yang sayu tapi dalam, nada suaranya yang datar dan dingin, telah membuat Aku terpojok dan merasa malu yang angat sangat. Saat ini Aku bukan lagi burung Beo yang pandai berkicau, Aku tak lebih dari burung hantu yang mabuk.
Tetapi rasa aneh lebih mendominasi otakku. Tadi siang Aku yakin sekali tidak bertatap mata seperti yang Farel ucapkan barusan. Aku yakin tadi siang Farel asik melihat kendaraan yang mondar-mandir di emperan toko. Kejerananku memunculkan praduga, jangan-jangan Farel seorang paranormal yang pandai membaca pikiran orang lain. Kucoba menengadah melihat mukanya. Tatapan matanya yang tajam membuat Aku tersudut. Bola mata Farel seakan mencolok bola mataku.
“Eyi, Aku mengakui bahwa wajah tampan dan penampilan yang ngetrend cukup besar peranannya ketika jumpa pertama kali. Kita memang tidak bias berpura-pura untuk tidak perduli dengan wajah yang menarik. Namun, jangan terpalu pada hal yang menarik satu ini. Sebab kecantikan atau ketampanan bias menjerumuskan kita pada suatu persahabatan yang terlalu dipaksakan. Gara-gara wajahku jelek, Kamu tidak mau meneruskan persahabatan denganku. Kamu menilai suatu persahabatan dengan menimbang kadar baik dan buruk hanya dari penampilan luarnya saja. Meski Kamu tidak tau warna jiwaku, tapi ternyata  Kamu sudah kekberikan ultimatum, Aku tak pantas menjadi sahabatmu”, kata-kata Farel begitu menunjok jantungku.
Piawai sekali Farel merangkai kata-kata bijak dalam suatu pemikiran yang dalam. Bukan kata-kata biasa yang muncul dari mulut seusiaku, juga seusia Farel. Farel begitu dewasa pemikirannya.
Aku tak mampu menatap wajahnya, bahkan untuk mengangkat kepalakupun Aku tak sanggup. Serasa ribuan ton besi menempel di atas kepalaku. Berat. Lalu kudengar Ia mendesah.
“Hanya itu kata-kata terakhir yang Aku sampaikan. Aku cukup tau diri untuk tidak menjadi sahabatmu lagi. Aku pulang sekarang”, tandas Farel.
Byurrr…!!! Seakan seember air sejuk mengguyur tubuhku. Kepulangan Farel membebaskanku dari dari segala beban yang menghimpit. Aku terhindar sari nada-nada sumbang, sinis dan dingin. Aku terlepas dari sorot matanya yang tajam, tapi seakan ada kekodongan yang mendalam pada lubuk jiwanya.
Kepergian Farel membuatku banyak merenungi kata-katanya. Benar adanya semua cemoohan itu. Aku sering kali mengukur nilai persahabaatan dari penampilan luarnya saja.
Hanya mengandalkan sosok luar, Aku begitu tegamenyia-nyiakan kedatngan Farel. Padahal, Farel punya kelebihan, wawasan berpijirnya luas. Farel maafkan Aku! Nanti malam akan kutulis pesan untukmu. Terimah kasih atas atas segala cercaanmu dan akan kusimpan dalam-dalam di benak kepedulianku. Akan kujadikan pelajaran hidup. Akan kuundang Kamu pada pertemuan kedua. Terasa hati begitu terang.
***
Pagi ini Aku siap-siap pergi kesekolah. Kulirik  jam yang melingkar di tangan kiriku. Pukul 06.10. Cukup sepuluh menit untuk mellihat berita pagi di TV. Kuperbaiki dudukku di sofa sambil menatap ke layar kaca sambil menampilkan  berita kecelakaan : korban tabrak lari.
“…. seorang penuda, di ketahui bernama Farel  Setianugraha, umur 18 tahun warga Polewali lenjadi korban tabrak lari, Ia tewas seketika kemarin siang sekitar pukul satu siang di depan PBM. Tubuhnya nyaris hancur di tabrak sebuah mobil truk…”
Tak Aku selesaikan berita itu. Farel kah orang itu? Pukul satu Ia tertabrak dan tewas seketika. Padahal beberapa menit kemudian Ia hadir di sini. Jadi yang datang ke rumah adalah … bulu kudukku berdiri dan Aku merasa ketakutan yaagn amat sangat. Pandanganku kabur lalu tiba-tiba semuanya gelap…gelap…dan gelap!!


0 komentar:

Poskan Komentar